Pun Pada Rapat Kecil, Peran Notulen Tetap Besar
Jika ada event kantor yang membutuhkan panitia atau tim kecil, saya sering sekali didaulat jadi sekretaris panitia atau tim tersebut. Mungkin karena teman-teman kantor tahu saya seorang blogger, jadi terbiasa untuk urusan tulis-menulis. Jobdes sekretaris panitia biasanya memang tidak jauh-jauh dari pekerjaan administrasi dan kalau ada rapat, otomatis jadi notulis rapat tersebut. Padahal pada praktiknya menulis untuk blog sangat berbeda dengan menulis untuk dokumen rapat yang lebih kaku dan formal.
Tapi ya sudah, dinikmati saja. Apalagi karena
sering jadi notulis rapat, saya jadi banyak mengasah keterampilan menulis dan
mengetik. Jika tulisan untuk blog lebih dinamis, tulisan untuk notulen rapat
cenderung lebih teratur dan kaku. Jadi anggap saja ini cara menyeimbangkan
fokus otak kanan dan otak kiri.
Seiring waktu saya jadi lebih terampil membuat
notulen sebuah rapat atau pertemuan. Dulu pertanyaan seperti:
informasi-informasi apa saja sebaiknya yang harus ada dalam notulis rapat? Apa
boleh menyebut nama dalam notulen rapat? Apa semua pembicaraan dalam rapat
harus ditulis, atau hanya fokus ke topik rapat saja? terasa cukup membingungkan.
Tapi saat ini kebingungan seperti itu tidak terjadi lagi.
Saya juga jadi semakin paham pentingnya peran
seorang notulis dalam sebuah rapat. Walaupun rapat-rapat tersebut terjadi di
tim kecil atau panitia yang sifatnya ad-hoc, notulen tetap berperan strategis
sebagai bagian dari manajemen rapat secara keseluruhan. Bayangkan apa yang
terjadi jika pada saat rapat berlangsung banyak argumen berbobot dilontarkan,
banyak pembicaraan penting untuk ditindaklanjuti, tapi karena notulensinya
kurang baik, banyak rekomendasi rapat yang jadi bias atau terlewatkan. Output
rapat pun jadi kurang optimal sehingga menghambat progress kerja
selanjutnya. Pada akhirnya kinerja organisasi pun akan ikut terganggu. Tidak
heran, sering kali rapat dianggap hanya pemborosan saja, baik pemborosan
anggaran maupun pemborosan waktu.
Dengan proses dokumentasi yang baik,
rapat-rapat (pada berbagai tingkat) dapat membantu orang-orang terkait untuk
menindaklanjuti hasil rapat dengan baik pula. Dengan demikian rapat-rapat yang
terjadi benar-benar memberikan kontribusi berarti bagi organisasi.
Nah, melalui artikel ini saya akan berbagi
beberapa kiat agar notulis dapat menjalankan perannya dengan baik. Saya bukan
pakar, hanya berniat sharing kiat-kiat yang saya rangkum dari praktik
terbaik selama ini. Mari kita lihat satu per satu.
Notulen Bukan Transkrip
Seorang notulis tidak perlu mencatat seluruh
pembicaraan seperti transkrip sebuah percakapan. Notulen pada dasarnya adalah rangkuman
atau poin-poin penting dalam pertemuan. Jadi seorang notulis harus mampu
membuat rangkuman dari esensi pembahasan setiap topik atau pembicaraan. Salah
satu tantangan seorang notulis adalah mencatat dengan singkat tapi tetap jelas
apa yang sedang dibahas. Sering kali terjadi, ada peserta rapat yang memang
doyan berbicara, sehingga saat berpendapat ditarik sana sini dulu. Padahal
sebenarnya pendapat atau masukannya bisa dibuat dengan singkat. Jadi seorang
notulis bukan hanya sekadar mendengar tapi harus benar-benar menyimak jalannya
rapat.
Jangan Menambahkan Opini Pribadi
Nah, walaupun bertugas mencatat hal-hal penting
dalam pembicaraan, notulis juga harus cermat. Jangan sampai menulis redaksi
yang berpotensi ditanggapi salah oleh pembaca notulen, apalagi menambahkan
opini pribadi. Ini bisa terjadi, baik disengaja maupun tidak disengaja, karena
keterbatasan notulis dalam merekam pembicaraan. Apalagi notulis tidak dilengkapi
back up dari perangkat perekam. Jadi memang sebelum menjadi dokumen
resmi milik organisasi, atau disebarluaskan secara resmi, notulen rapat harus
di-screening kembali oleh pemimpin rapat, untuk memastikan semua hasil
pembicaraan sudah sesuai dan dapat dipahami dengan mudah oleh pembaca notulen.
Gunakan Alat Bantu
Jika notulis rapat memiliki kecepatan menulis
atau mengetik yang masuk kategori slow, ditambah kecepatan menangkap
pembicaraan yang juga slow, maka notulis harus melengkapi diri dengan
alat bantu seperti perekam suara. Jadi jika ada pembicaraan yang terlewatkan
atau kurang jelas, perekam bisa digunakan untuk memutar kembali pembicaraan
tersebut. Dengan demikian notulis dapat memastikan semua pembahasan bisa
tercatat dengan baik.
Selesaikan Notulis Sesegera Mungkin
Saya sendiri selalu berusaha menyelesaikan
notulen rapat dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Semakin cepat semakin
baik, karena proses rapat masih segar di ingatan. Oleh karena itu usai rapat
atau pertemuan, saya biasa masih tinggal sejenak untuk menyelesaikan notulen
sesegera mungkin. Kemudian salah satu kiat yang biasa saya lakukan adalah (jika
memungkinkan) langsung menampilkan naskah notulen di layar presentasi saat
rapat berlangsung, bergantian dengan tampilan data atau presentasi lain. Jadi saat
pembicaraan berlangsung, naskah notulen bisa langsung dilengkapi, juga bisa
langsung disunting berdasarkan masukan pembicara atau pemimpin rapat. Setelah rapat
selesai, notulen tinggal dirapikan seperlunya.
Pastikan informasi Penting Tersedia di Notulen
Setiap organisasi punya standar format notulen
pertemuan atau rapat, terutama untuk rapat-rapat yang sifatnya formal. Tapi
untuk rapat yang sifatnya non formal pun mesti tetap ada informasi-informasi kunci
yang harus disertakan dalam notulen rapat, sebagai dokumentasi pertemuan.
Informasi tersebut misalnya: tanggal, lokasi, pemimpin, dan jumlah peserta
rapat. Kemudian untuk isi notulennya sendiri harus memuat agenda, pembahasan
dan rekomendasi rapat, termasuk PIC dan tenggat waktu dari rekomendasi
tersebut. Tidak lupa notulen harus dilengkapi dengan tanda tangan dari notulis
dan pemimpin rapat sebagai validasi. Menambahkan foto kegiatan atau tangkap
layar (rapat virtual) juga bisa dilakukan sebagai bukti proses rapat
berlangsung.
Perihal mencantumkan nama orang-orang yang
memberi usulan atau pendapat dalam rapat, juga kembali ke budaya setiap
organisasi. Organisasi yang mengedepankan transparansi mungkin menormalisasi
pencantuman nama-nama pada notulen. Tapi pada sisi lain ada juga faktor etis
yang harus diperhatikan, terutama jika notulensi rapat akan dibagikan ke banyak
orang. Dalam hal ini pencantuman nama dapat berujung ke hal-hal yang kurang
kondusif, apalagi jika topik yang dibahas cukup sensitif. Jalan tengah yang dapat
dilakukan adalah mengganti nama dengan jabatan (walaupun ini juga masih cukup
personil) atau cukup dengan menulis seperti ini, “....salah satu peserta
mengusulkan ...”.
Atau bisa juga notulen dibuat dalam format
berbeda. Notulen yang rinci dan lengkap ditujukan untuk orang-orang kunci
organisasi / perusahaan. Lalu notulen yang sifatnya lebih umum dan menampilkan
rekomendasi-rekomendasi final dibuat untuk ditujukan ke elemen organisasi yang
lebih luas. Notulen rinci tetap didokumentasikan untuk membantu orang-orang
kunci yang ingin kembali menelusuri riwayat pembuatan keputusan-keputusan
tertentu.
Untuk rapat yang sifatnya non formal,
mencantumkan nama dalam notulen tidak terlalu diperlukan, karena pembahasan biasanya
lebih bersifat brainstorming, dan membahas hal-hal yang sifatnya teknis
praktis. Tapi sekali lagi, semua kembali ke budaya setiap organisasi.
Demikianlah beberapa kiat yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan tugas kesekretariatan, khususnya sebagai notulis rapat. Walaupun sosok notulis sering kali tenggelam dalam dinamika rapat yang hangat dan menguras mood, perannya sangat strategis. Sesempurna apapun pembahasan yang dilangsungkan dalam rapat, tanpa dokumentasi yang baik rapat tersebut tidak akan memberikan kontribusi yang optimal bagi organisasi atau perusahaan. (PG)
Ilustrasi gambar diolah dari prompt chatgpt
Pertama kali tayang di Kompasiana


Post a Comment