Melek Keuangan Dimulai dari Menghargai Isi Dompet
Fenomena tertangkapnya pemilik Abu Tours beberapa waktu lalu membuat kita kembali geleng-geleng kepala dan mengelus dada. Bagaimana tidak? Branding perusahaan jasa umrah ini sebelumnya cukup meyakinkan. Masyarakat pun berbondong-bondong menjadi pengguna jasanya. Berdasarkan informasi terakhir, jumlahnya tidak kurang dari 86 ribu orang dengan omset sekitar 1,8 triliun rupiah. Naasnya, di saat-saat terakhir nasib ribuan orang dan dana yang dikelola tersebut menjadi tidak jelas seiring ditangkapnya sang pemilik dan pembekuan usaha.
Jika mencari siapa yang salah, semua pihak yang terlibat
memiliki andil terhadap musibah ini.
Pemilik usaha utamanya, kemudian pemerintah sebagai regulator dan juga ada
andil dari masyarakat pengguna jasa. Tapi jika mencari siapa yang paling
dirugikan, jawabannya adalah masyarakat pengguna jasa. Membaca kisah-kisah
mereka di media sosial benar-benar bikin miris. Ada yang menabung sedikit demi
sedikit uang hasil menarik becak atau dagang asongan, ada yang mesti pinjam
dari keluarga dan lain-lain.
Masyarakat kita memang sering jadi sasaran empuk para
penipu. Modusnya pun ada-ada saja. Kalau dalam kasus Abu
Tours atau First Travel yang
lalu, masyarakat sebenarnya menyetor rupiah dengan niat yang tulus dan mulia
untuk mengamalkan ibadah, hanya saja dana yang mereka setor salah dikelola.
Tapi ada juga penipu yang memang sejak awal secara
eksplisit menunjukkan “ketidakwajaran” pada skema bisnis usahanya, melalui iming-iming
penghasilan besar dalam waktu singkat atau malah dengan hal-hal yang lebih
diluar nalar, seperti penggandaan uang dengan cara-cara klenik. Tapi ajaibnya,
masih ada saja masyarakat yang jadi korban.
Menghargai
Pendapatan
Kita seringkali bekerja keras mengejar pendapatan, tapi
tidak berpikir keras saat membelanjakannya.
Berpikir keras yang dimaksud di sini adalah kita telah memiliki perencanaan sebelum
berbelanja, mengetahui barang/jasa yang
akan kita beli itu adalah kebutuhan atau keinginan belaka dan mengetahui biaya
kesempatan dari setiap pengeluaran yang kita lakukan.
Menghargai pendapatan akan melahirkan money habits yang berguna untuk mengelola arus kas secara efektif. Kita
bisa mulai dengan mengetahui riwayat pengeluaran dalam sebulan. Lalu dari jumlah
seluruh pengeluaran, hitung berapa alokasi untuk kebutuhan makan minum, untuk
tabungan dan investasi, untuk transportasi, untuk biaya pendidikan, biaya entertainment, membayar tagihan-tagihan
lain-lain, kemudian lihat pos pengeluaran mana yang masih bisa dikurangi dan
mana yang masih bisa ditambah.
Cara untuk mengetahui riwayat pengeluaran ini adalah
membuat pencatatan arus kas secara rutin setiap harinya. Lalu diwaktu-waktu
tertentu, misalnya seminggu sekali, review
kembali arus kas kita seminggu sebelumnya. Berdasarkan pengalaman saya, setelah
melakukan pencatatan ini, kita akan semakin mengenal kelebihan dan kekurangan
kita dalam masalah keuangan. Kita jadi tahu diri, ekonomis atau boros, pelit
atau obsesif. Pada saat kapan saja,
belanja menjadi tidak terkontrol. Mana belanja yang memang merupakan kebutuhan,
mana yang karena godaan iklan. Kita pun jadi semakin menghargai setiap rupiah pendapatan
yang kita terima.
Pencatatan
Keuangan
Jika dulu pencatatan pendapatan atau belanja dibuat secara
manual atau menggunakan aplikasi seperti MS Excel, saat ini kita dapat
menggunakan aplikasi gratisan yang lebih praktis dan bisa diunduh langsung dari
google play store. Coba search saja dengan keyword “pencatatan keuangan”, “pencatatan arus kas” atau keyword serupa. Ada banyak aplikasi pendukung
yang dapat ditemukan. Saya sendiri menggunakan aplikasi berjudul “pengeluaran
bulanan” yang gambar icon-nya seperti
ini
Dengan demikian, saat kita dihadapkan pada rencana
pengeluaran yang membutuhkan dana besar, kita semakin arif dan bijak dalam
menyikapinya. Kita akan terdorong untuk mencari tahu bagaimana keamanan dana
kita saat ditawari sebuah peluang investasi, misalnya. Kita akan terdorong
untuk menyelidiki riwayat seseorang atau perusahaan sebelum kita membeli
produk/jasa yang mereka tawarkan.
Menghargai pendapatan ini adalah sikap dasar sebelum kita
belajar tetek bengek financial literacy
lebih lanjut seperti jenis investasi apa yang cocok untuk kita, bagaimana
sebaiknya rasio hutang kita dan lain-lain.
Jadi, saat belajar dari hal-hal kecil seperti mengetahui pergerakan setiap sen isi dompet kita, kita pun akan semakin bijaksana pada saat pengambilan keputusan yang lebih besar. (PG)
gambar oleh Vincent Groeneverd dari pixabay.com
Pertama kali tayang di Kompasiana


Post a Comment