Teliti Bisa Jadi Pembeda Hidup dan Mati
Dalam melakukan pekerjaan, “teliti” merupakan salah satu etos yang sangat menunjang keberhasilan pekerjaan kita, apapun profesi yang dilakoni. Teller di bank, guru, penulis, tenaga penjualan sampai profesi yang lebih banyak membutuhkan kekuatan otot seperti misalnya helper atau buruh, tetap harus cermat dan teliti saat bekerja agar tidak melakukan kesalahan yang bisa mendatangkan kerugian.
Kerugian ini bukan saja terkait dengan diri
sendiri, seperti misalnya kasir yang melakukan kesalahan transaksi sehingga
harus mengganti selisih transaksi tersebut. Kurang teliti juga bisa
mendatangkan kerugian bagi orang lain, bahkan bisa menjadi kunci perkara hidup
dan mati seseorang.
Peristiwa yang terjadi di Uttar Pradesh, India,
belum lama ini bisa jadi contohnya. Dilansir portal kompas.com (sumber di sini)
seorang wanita memiliki keluhan sakit perut yang sudah berlangsung cukup lama.
Dia sudah berobat ke beberapa dokter tapi keluhannya tidak kunjung teratasi. Setelah
berobat ke salah satu klinik dan menjalani pemeriksaan x-ray, baru ketahuan
penyebab keluhan tersebut. Ternyata ada gunting bedah yang bersarang di
perutnya.
Diduga gunting tersebut adalah perkakas dokter
yang menanganinya melakukan operasi caesar pada tahun 2008 lalu. Bayangkan,
bagaimana penderitaan si ibu selama 17 tahun ini. Si ibu pun dioperasi (untuk
kedua kalinya) guna mengangkat gunting bedah tersebut. Syukurlah, meski
tergolong operasi yang rumit, operasi berjalan baik dan si ibu berhasil
diselamatkan.
Menurut berita di atas, suami si ibu sudah
membuat pengaduan polisi agar melakukan investigasi terhadap terhadap dokter dan
tim yang melakukan operasi caesar 17 tahun lalu. Tidak dijelaskan lebih lanjut
bagaimana kelanjutan proses aduan polisi tersebut.
Kita kembali ke tema tulisan: ketelitian. Pada
pemberitaan tidak dijelaskan penyebab pasti mengapa dokter yang melakukan
operasi melalaikan hal ini. Kita berasumsi dokter yang melakukan operasi caesar
tidak mungkin meninggalkan gunting operasinya secara sengaja (kecuali si dokter
memang memiliki dendam pribadi ya).
Jadi peristiwa tersebut memang terjadi karena
murni karena kesalahan alias human error. Kita bisa menduga-duga
penyebabnya, bisa jadi karena si dokter kurang fokus entah karena kelelahan
atau pikirannya terbagi dengan hal lain. Bisa jadi juga karena kelalaian tenaga
medis lain yang jadi bagian dari tim operasi. Bisa jadi juga ada SOP operasi
yang tidak dijalankan dengan baik. Tapi kita bisa menarik benang merah, yaitu
ada faktor kekurangtelitian saat rangkaian proses operasi caesar dilakukan.
Saya jadi ingat kebiasaan jika membeli makanan
yang kemasannya menggunakan kertas/plastik mika dan dirapikan menggunakan stapler
(seperti nasi kuning, mie goreng dan lain-lain). Jika melihat langsung proses
membungkus makanan tersebut, saya menghitung berapa kali kemasannya di-stapler.
Atau jika tidak sempat, saya menghitung terlebih dahulu jumlah peluru stapler
pada kemasan makanan sebelum membukanya. Saat membuka makanan, saya
mengumpulkan terlebih dahulu peluru stapler yang dikeluarkan dari
kemasan makanan satu per satu. Setelah memastikan jumlah peluruh stapler-nya
sudah klop dan sudah tersisih jauh-jauh, barulah makanan bisa dikonsumsi dengan
tenang. Ngeri saja membayangkan karena kurang teliti membuka kemasan, ada
peluru stapler yang tercampur dalam makanan tersebut dan ikut
dikonsumsi.
Dengan logika yang sama, mestinya tim nakes
pasca melakukan operasi memastikan semua peralatan operasi / bedah sudah berada
pada tempatnya sebelum memperbolehkan pasien dipindahkan ke ruang pemulihan. Setahu
saya rumah sakit memiliki prosedur seperti ini. Makanya di atas tadi saya
menyimpulkan ada SOP operasi yang mungkin tidak dijalankan dengan semestinya.
Sekali lagi, ketelitian sangat dibutuhkan untuk
memastikan keberhasilan pekerjaan kita. Apalagi dalam bidang kerja yang
berkaitan dengan nyawa manusia, seperti misalnya farmasi, militer atau kesehatan
seperti pada contoh kasus di atas.
Sebenarnya manajemen dan tata kelola yang
diterapkan dalam organisasi biasanya sudah membantu orang-orang yang terlibat
di dalamnya untuk lebih teliti dan memastikan mutu pekerjaan sesuai yang
diharapkan. Tapi tetap saja ada peluang human error terjadi dalam sistem
kerja, oleh karena itu kita dapat menerapkan 3 kiat berikut untuk membantu
meningkatkan ketelitian dan mutu pekerjaan kita.
Patuh pada Sistem
Peraturan, kebijakan, prosedur / instruksi
kerja dan peraturan-peraturan lainnya dalam bekerja pada umumnya sudah didesain
sedemikian rupa untuk meminimalkan human error. Tapi yang namanya
manusia, faktor-faktor penyebab terjadinya kesalahan selalu ada karena
keterbatasan kita. Seperti misalnya kurang teliti, kurang fokus, lelah, sedang
banyak pikiran, konflik kepentingan, dan faktor lainnya. Jadi patuh pada sistem
kerja adalah kuncinya, karena secanggih apapun peraturan dan sistem kerja
dibuat, kalau manusianya sendiri tidak patuh, tidak akan banyak berguna.
Misalnya kita ketahui ada prosedur menghitung kembali uang di depan pembeli
sebelum memasukkan uang tersebut ke mesin kasir. Selelah atau seribet apapun
posisi seorang kasir saat itu, prosedur ini harus tetap dijalankan untuk
memastikan tidak ada selisih antara kas fisik dan kas pada sistem pada saat
akhir hari atau pengecekan.
Double Check
Jika peraturan atau sistem kerja masih terbatas
untuk menunjang mutu pekerjaan, kita bisa tetap menguji kembali ketelitian kita
dengan melakukan double check pekerjaan yang sudah dihasilkan. Misalnya:
mengecek sekali lagi laporan sebelum dikirim ke atasan, mengecek sekali lagi
stok barang sebelum melakukan konfirmasi pemesanan logistik baru, mengecek
kembali fitur-fitur produk yang akan ditawarkan kepada klien sebelum presentasi,
dan sebagainya.
Minta Feedback
Jika bekerja dalam tim atau mutu pekerjaan kita
melibatkan pihak lain dalam organisasi, tidak ada salahnya meminta feedback
atau umpan balik dari orang lain. Pun hal ini biasanya sudah diatur di dalam
sistem kerja. Tapi pada beberapa kasus, kita bisa tetap meminta feedback
dari orang lain bahkan jika orang tersebut tidak terkait secara langsung dengan
pekerjaan kita. Misalnya seorang staf digital campaign meminta masukan
dari teman sedivisi untuk mengecek kembali konten pemasaran yang ditulisnya,
sebelum mengirim ke manajer tim. Atau seorang supervisor meminta feedback
dari teman-teman satu tim sebelum mengirim laporan absensi ke pimpinan,
kalau-kalau ada data yang masih keliru.
Nah, tiga kiat yang bisa meningkatkan ketelitian dalam bekerja ini bisa diterapkan di lingkungan kerja manapun kita berada. Bekerja lebih teliti mendatangkan banyak manfaat. Mutu pekerjaan meningkat, pekerjaan kita dihargai, bahkan pekerjaan kita bisa jadi pembeda antara hidup dan mati seseorang. (PG)
Ilustrasi gambar dari pixabay.com
Pertama kali tayang di Kompasiana
Post a Comment